Tampilkan postingan dengan label Padi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Padi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 April 2016

Pabrik Pupuk Ilegal

Beroperasi Sejak 2007, Pabrik Pupuk Ilegal di Sukabumi Dipasarkan ke Sumatera
↓
KPP-INDONESIA,Jakarta - Polres Pelabuhan Tanjung Priok membongkar praktik ilegal produksi pupuk NPK palsu yang terdapat di 4 pabrik di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Empat pabrik tersebut sudah beroperasi sejak 2007 dan produknya telah beredar ke sejumlah provinsi di Sumatera.

"Sindikat ini memiliki pasar atau wilayah edar yang sangat luas yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Riau dan Aceh, dan beberapa di antaranya telah beroperasi sejak tahun 2007 dengan produksi rata-rata mencapai 10 ribu ton per bulan," ujar Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok, AKBP Hengki Haryadi, kepada detikcom, Sabtu (9/4/2016).

Kegiatan ini memiliki dampak yang sangat merugikan bagi para petani sebagai produsen dan masyarakat Indonesia sebagai konsumen. Di samping itu, kegiatan ilegal tersebut juga mengancam ketahanan pangan Indonesia.

"Hal ini juga dapat menurunkan daya saing hasil pertanian Indonesia, sebab kualitasnya jadi buruk bahkan bisa saja para petani gagal panen karena pada pupuk tersebut tidak mengandung unsur hara," ungkapnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Priok Kompol Victor Inkiriwang mengungkap, pupuk hasil produksi sindikat ini tidak sesuai dengan standar komposisi yang ditentukan pemerintah.

"Bahan yang digunakan untuk membuat pupuk yaitu pewarna pakaian, kapur, dolomit, air dan garam," ujar Victor.

Polisi telah memeriksakan kandungan yang ada di dalam pupuk tersebut ke Pusat Laboratorium Forensik, serta memeriksakan kepada ahli-ahli seperti dari kementerian pertanian, kementerian perdagangan, kemeterian perindustrian dan yayasan lembaga konsumen Indonesia (YLKI).

"Hasil puslabfor, bahwa kandungan pada pupuk tersebut sama sekali tidak mengandung nitrat, sedangkan posfor dan kaliumnya hanya nol koma sekian persen. Jadi tidak ada memgandung unsur hara sama sekali yang dapat menyuburkan tanah," jelas Victor.

Dalam kasus ini, polisi menangkap 4 tersangka pemilik pabrik di Desa Cikembar RT 03/04 Sukabumi, yakni ES (54). Ia sudah beroperasi sejak tahun 2007 dengan wilayah peredaran yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara.

Sementara tersangka S (42), pemilik pabrik pupuk di Jalan Jampang Tengah, Kampung Ciembe, Desa Padabeunghar Kecamtan Bojonglopang, Kabupaten Sukabumi yang beroperasi sejak 2014 dan mengedarkan produksinya ke Riau dan Sumatera Utara. Tersangka MH (39), pemilik pabrik di Jl Pelabuhan II Km 13 Kampung Cibodas, Desa Kertaraharja Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Pabrik tersebut sudah memproduksi pupuk sejak tahun 2016 dengan wilayah peredaran Sumatera Utara 

Selanjutnya, tersangka IS (54), pemilik pabrik di Desa Babakan Pangleseran, Cikembar, Sukabumi, Jawa Barat. Pabrik tersebut sudah memproduksi pupuk sejak tahun 2014 dengan wilayah peredaran Sumatera Utara dan Aceh. 

Dari para pelaku ini, polisi menyita 6 kontainer berisi 136 ton pupuk ilegal, 4 unit truk trailer, 12 mesin pembuat pupuk, 41 peralatan dan perlengkapan pembuat pupuk, 10 karung dan ½ galon  bahan pembuat pupuk serta 6 buah alat percetakan yang digunakan untuk kemasan karung.

Para tersangka dijerat dengan Pasal 106 Jo Pasal 24 ayat (1) dan Pasal 113 Jo Pasal 57 ayat (2) Undang - Undang No 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, Subsidair Pasal 120 ayat (1) Jo Pasal 53 ayat (1) huruf b Undang - Undang No 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian Lebih Subsidair Pasal 62 Jo Pasal 8 Undang - Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Lebih subsidair lagi Pasal 37 ayat (1) Jo Pasal 60 Huruf f  Undang - Undang No.12 Tahun 1992 tentang Budidaya Tanaman. (detik.com)

Rabu, 06 April 2016

Produktivitas Tinggi Padi Gogo Pacitan

Produktivitas Tinggi Padi Gogo Pacitan
↓
KPP-INDONESIA,JAWA TIMUR,
Pacitan -- Jawa Timur khususnya Kabupaten Pacitan diharapkan menjadi inspirasi dan model pengembangan produktivitas padi untuk lahan kering (padi gogo) di Indonesia. "Keberhasilan penerapan inovasi padi gogo di Pacitan dapat direplikasi untuk seluruh Indonesia," demikian disampaikan Kepala Badan Litbang Kementan, Muhammad Syakir, pada acara Gelar Teknologi yang dilaksanakan di Desa Ngadirejan, Kecamatan Pringkukuh, Pacitan, Selasa (29/03).
"Padi Gogo secara rata-rata nasional kita bisa capai produktifitasnya maksimal 4 ton per hektar, tapi kita lihat disini, beberapa puluhan varietas di Taman Teknologi Pertanian (TTP) Pacitan ini ada yang lebih dari mencapai 6 ton per hektar, ini dapat dicontoh untuk daerah lain," jelas Kepala Badan Litbang.
Harapan yang besar terhadap pengembangan padi gogo dalam mendukung pencapaian produksi padi secara nasional dapat dilihat dari potensi yang dimiliki dari luas sawah lahan kering lebih besar dibandingkan dari luas lahan padi sawah.
Untuk Jawa Timur sendiri luas lahan keringnya mencapai 1,3 juta ha, sementara luas lahan sawahnya dibawah luas lahan keringnya yakni sebesar 1,017 juta ha.
Gelar Teknologi TTP Pacitan kali ini diisi dengan kegiatan penanaman kedelai, panen padi Gogo, peninjauan ke sarana TTP seperti kandang sapi potong, gudang pakan, dan pengolahan pangan. Selain itu, dilaksanakan pula penyerahan bantuan benih padi Gogo dan mesin pompa air kepada kelompok tani.
TTP Pacitan merupakan salah satu dari 22 Taman Sains dan Teknologi Pertanian yang dibangun oleh Kementan melalui Badan Litbang pada tahun 2015 untuk mewujudkan salah satu Nawacita Bapak Presiden Joko Widodo.
Pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, telah ditetapkan terbangunnya Taman Sains di 34 Provinsi dan Taman Teknologi di 100 Kabupaten dalam waktu 5 tahun. Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Kementerian Pertanian melalui Balitbangtan mendapat tugas untuk mengembangkan 1 Taman Sains dan Teknologi Pertanian Nasional (TSTPN), 5 Taman Sains Pertanian dan 16 Taman Teknologi Pertanian. TTP Pacitan merupakan satu dari 16 Taman Teknologi Pertanian yang dibangun di Kabupaten Pacitan yang dipusatkan di Kecamatan Pringkukuh.
Pembangunan TTP Pacitan dilakukan oleh Badan Litbang bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Pacitan dan stakeholders lainnya, khususnya dari kelompok akademisi atau Perguruan Tinggi yaitu Universitas Brawijaya Malang dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Sarana prasarana pelatihan dan show window
inovasi pertanian yang telah disiapkan di pada TTP ini diantaranya gudang alsintan, lantai jemur, gedung transit panenan, gedung mini pabrik olahan, saung tani, bangunan preparasi pengepakan, bangunan preparasi media, screen house, shade house, ruang manajer dan penyuluh, kandang sapi, instalasi biogas dan biourin, bangunan proses kompos, penampungan
sludge , gudang prosesing pakan, biosecurity , tower air, embung dan deep well pump .
TTP Pacitan diharapkan menjadi wahana bagi para peneliti dan penyuluh tidak saja dari Balitbangtan, namun juga dari Universitas atau Perguruan Tinggi untuk penerapan teknologi di satu kawasan dalam skala luas bukan hanya skala laboratorium.
Peneliti dan Penyuluh perlu terus melakukan kajian terhadap kendala dan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat dalam meningkatkan kualitas produksi dan produktivitas usaha tani. Saat ini yang diperlukan adalah kerja nyata dan sinergi bagi semua komponen pelaksana pembangunan TTP, baik pemerintah pusat, pemda, masyarakat, lingkungan akademisi, maupun bisnis.
“TTP Pacitan adalah salah satu terminal untuk melakukan lompatan penerapan inovasi teknologi menuju kesejahteraan petani bermanfaat untuk seluruh masyarakat,” kata Kepala Badan Litbang.
Selain padi gogo, program utama TTP Pacitan mengembangkan sapi, jagung, kedelai, kacang tanah, cabai, jeruk, dan pisang yang secara berkelanjutan melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP).
Hadir dalam kesempatan tersebut Bupati Pacitan, Wakil Ketua Komisi IV DPR-RI, Dekan Pertanian UGM, Kadisperta Prov Jatim dan segenap unsur Muspida.(bb padi,litbang,pertanian)

Danau Toba Menjadi Harapan Keberhasilan Petani Padi Tobasa

Danau Toba Menjadi Harapan Keberhasilan Petani Padi Tobasa
↓
KPP-INDONESIA,SUMUT.
Uluan. Penerapan pola tanam jajar legowo yang didukung pengairan sistim pompanisasi di Desa Marom, Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba Samosir  dijadikan sebagai penerapan program upaya khusus pencapaian swasembada pangan.
Pembukaan lahan atau penambahan luas lahan pertanian di daerah itu terus dilakukan. Mengingat, lahan pertanian yang selama ini terkendala hanya dikarenakan pengairan irigasi sudah kering adalah sesuatu yang tidak dipermasalahkan karena melalui pompanisasi dapat menjadi solusi.
Luas lahan pertanian mencapai 1.800 hektare dan saat ini yang berproduksi hanya kisaran 280 hektare selebihnya menjadi lahan tidur alias tidak berproduksi dikarenakan sulitnya pengairan. Padahal hamparan persawahan berada persis di pinggir Danau Toba.
"Ibarat perkataan kami haus di bawah air terjun. Masa kekeringan melanda daerah kami sementara Danau Toba di depan mata," ujarnya diamini Kades R Butarbutar dan menyebut jumlah KK 290 dan luas lahan tidur berkisar 1.000 hektare dan siap diolah bila air tercukupi.
"Saya sampaikan instruksi Menteri Pertanian dan Presiden RI bahwa permasalahan seperti ini akan secepatnya ditanggapi, pertama pompa akan secepatnya dikirimkan sebagai alat pendukung utama, agar lahan sawah yang semula hanya satu tahun sekali, kedepan berpeluang tanam IP200-IP250, atau dua tahun lima kali tanam," ungkap Ali Jamil dalam sambutanya yang mewakili Menteri Pertanian.
Acara itu dihadiri Bupati Tobasa Darwin Siagian yang didampingi Wabup Hulman Sitorus dan sejumlah pimpinan SKPD diantaranya Jonni Hutajulu, Kepala Bapeda James Silaban, Kadis PU Beresman Simangunsong serta Sekdakab Audhi Murphy Sitorus disaksikan sejumlah DPRD daerah itu dan Kapolres AKBP Jidin Siagian, Koramil, Kasdim.
Bupati mengapresiasi perhatian Pemerintah Pusat ke daerahnya, secara khusus mendukung pembukaan lahan pertanian baru untuk mendukung sumbangsih daerahnya dalam ketahanan pangan. "Mari kita laksanakan instruksi yang sudah disampaikan Pak Dirjen, karena, seluruh yang disampaikan hanya untuk kepentingan kita yakni meningkatkan taraf hidup kita sebagai petani menjadi sejahtera.”(litbang.pertanian)

Jumat, 18 Maret 2016

BUMD Pangan Lokal untuk Ketahanan Pangan Nasional

BUMD Pangan Lokal untuk Ketahanan Pangan Nasional
Salah satu unsur penting dalam ketahanan pangan adalah ketersediaan beras. Institusi yang diberi tugas oleh pemerintah dalam menjamin ketersediaan beras nasional adalah Bulog yang berperan dalam pemenuhan Program Beras untuk Masyarakat Miskin (Program Raskin) dan Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Masalah lainnya adalah pemilikan sarana terbatas, selain masalah personil dan mekanisme kerja internal Bulog. Sejak era otonomi daerah, setiap daerah memiliki kewajiban mewujudkan ketahanan pangan di daerahnya. Beberapa program yang sudah dilakukan adalah membentuk Cadangan Pangan Daerah untuk berbagai kebutuhan, terutama bencana alam.
Untuk membantu Bulog menyerap beras petani, keberadaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang bergerak di bidang pangan sangatlah logis. BUMD pangan memiliki peran serupa dengan Bulog, namun pada level daerah (kabupaten). Beras yang terkumpul di BUMD Pangan diprioritaskan untuk kebutuhan masyarakat setempat dan sisanya untuk cadangan beras Bulog. Justifikasi lain pendirian BUMD adalah: (1) mempercepat proses pembangunan daerah dan membantu meningkatkan kesejahteraan rakyat, (2) sebagai mitra masyarakat dalam menyukseskan pembangunan sebagaimana nafas dari prinsip perekonomian nasional, serta (3) mewujudkan kemandirian pangan daerah, mengefisienkan manajemen pangan nasional, meringankan biaya transportasi, serta menjamin ketersediaan pangan di tingkat lokal yang lebih sesuai dengan kebutuhan.
Kegiatan yang saat ini berjalan adalah pengadaan, pengolahan, penyimpanan, dan pemasaran hasil pertanian khususnya beras. Dengan kegiatan ini, BUMD mampu menstabilkan harga beras di tingkat petani dengan melakukan pembelian gabah sesuai harga pasar. BUMD juga mampu menyediakan sarana produksi pertanian dan teknologi bekerja sama dengan kelompok tani. Informasi ini merupakan salah-satu artikel yang tercantum dalam
Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian >> Vol.37 No.1 Th. 2015

Sumber : website Pustaka Deptan

Senin, 14 Maret 2016

Tehnik Irigasi Dan Pengaturan Pengairan Pada Lahan Persawahan

Tehnik Irigasi Dan Pengaturan Pengairan Pada Lahan Persawahan

kpp-indonesia.com- Pengairan adalah kunci utama dalam pertanian padi, baik tidaknya kualitas dari produktivitas padi sangat bergantung pada bagaimana kita mengatur dan mengelola air. Tapi kita juga harus kita mengerti bahwa pada dasarnya padi bukan merupakan tumbuhan air, sehingga tanaman tersebut tidak harus selalu digenangi air.. Dengan memahami hal ini, maka diharapkan para petani dapat menghemat dalam penggunaan air dan dapat melakukan pengairan secara tepat..
Pada budidaya tanaman padi sebaiknya pengairan dilakukan secara berselang atau pengairan intermiten. Pengairan berselang adalah pengaturan kondisi lahan dalam kondisi kering dan tergenang secara bergantian.
Manfaat Dan Tujuan Pengairan Berselang:
Menghemat air irigasi sehingga areal yang dapat diairi jangkauanya menjadi lebih luas.
Memberi kesempatan kepada akar untuk mendapatkan udara sehingga perakaran lebih sehat dan dapat berkembang lebih dalam.
Mencegah timbulnya keracunan besi.
Mencegah terjadinya penimbunan asam organik dan gas H2S yang akan bisa menghambat perkembangan akar
Akar bisa berkembang lebih baik
Mengurangi Resiko terjadinya kerebahan,
mengaktifkan jasad renik mikroba yang sangat bermanfaat bagi tanaman padi
mengurangi jumlah anakan padi yang tidak produktif
menyeragamkan proses pemasakan gabah dan mempercepat waktu panen
memudahkan pembenaman pupuk ke dalam tanah sehingga lebih dapat efektif dalam penyerapan tanaman.
Mengurangi resiko serta memudahkan pengendalian dan pencegahan hama berupa keong mas,
Mengurangi resiko penyebaran hama wereng coklat dan penggerek batang
Mencegah terjadinya busuk batang.
( Sumber: Badan Litbang Pertanian )
Berikut Cara Penerapan Pengairan Yang Tepat:
1. Saat proses penanaman bibit baru, sebaiknya kondisi air di sawah dalam keadaan macak-macak. Hal tersebut dimaksudkan agar memudahkan para petani dalam menanam bibit padi. Selanjutnya secara bertahap tanaman digenangi air setinggi 2-5 cm.
Kondisi ini dibiarkan sampai 10 hari, karena selama waktu 10 hari tersebut bibit yang telah dicabut mengalami stress akibat terkena terik matahari, Penggenangan air ini bertujuan untuk mengurangi stress akibat terik matahari. Setelah lebih dari 10 hari setelah tanam, air dibiarkan sampai kondisi macak-macak kembali sampai 14 hst. Saat inilah waktu yang pas untuk pemberian pupuk yang pertama.
2. Sekitar 2 hari setelah pemupukan sawah kembali digenangi air setinggi 3-5 cm. Begitu seterusnya dengan selang waktu yang sama.
3. Setelah memasuki vase generatif, maka sebaiknya tanaman selalu digenangi air setinggi 3-5 cm. Tapi, hal ini pun tak mutlak harus dilakukan. Tanaman juga masih bisa di biarkan dalam keadaan macak-macak. Pada fase generativ ini tanaman membutuhkan air dalam jumlah yang banyak untuk pengisian bulir padi.
4. memasuki usia 10-14 hari sebelum masa panen, sawah dibiarkan dalam kondisi macak-macak sampai kering. karena apabila dalam kondisi tersebut tanaman digenangi air maka hasil panen padi akan kurang bagus.

Sumber : kabartani.com

Minggu, 13 Maret 2016

Tonny Purba : Sudah saatnya petani padi saat ini mulai belajar sales dan distribusi


Oleh : Tonny Purba

(Admin KPP-INDONESIA)

Salam tani kepada seluruh member di Komunitas Petani Padi Indonesia
Sudah saatnya petani padi saat ini mulai belajar sales dan distribusi :
~ Menjemur GKP menjadi GKG tentu harganya lebih tinggi
~ Jika ada petani yang mampu menggiling GKG menjadi beras, saya bersama rekan saya siap membeli beras hasil gilingan petani padi yang ada di wilayah Bekasi, Cilengsi dan Bogor.
Siap membeli beras petani dengan harga :
~ premium : 12.000/kg
~ super : 10.000/kg
~ medium 1 : 9.600/kg
~ medium 2 : 9.200/kg
~ medium 3 : 8.800/kg
~ asalan : 8.200 - 8.400/kg


Harga sewaktu-waktu bisa berubah
Bisa inbox fb saya ata tlpn/sms ke 081286837789 agar petani padi bisa mendapatkan harga jauh lebih tinggi, sukses...

Keunggulan Sistem Tanam Jajar Legowo 2:1

KEUNGGULAN JARWO 2:1

 kpp-indonesia.com -Sistem tanam padi jajar legowo memiliki beberapa variasi antara lain: Legowo 2:1, 3:1, 4:1, dan 5:1. Tetapi berdasarkan penelitian system jajar legowo yang paling sesuai dengan kondisi tanah secara umum di Indonesia adalah Jajar Legowo 2:1. Pengaplikasian system ini dilakukan dengan cara berikut pada lahan yang sangat subur memakai jarak tanam antarbarisan 25 cm, dalam barisan 12,5 cm, dan antarlegowo 50 cm. Pada lahan yang kuran subur jarak tanam lebih lebar, yaitu antarbarisan 30 cm, dalam barisan 15 cm, dan antarlegowo 40 cm, atau bisa juga dengan antar barisan 20 cm dalam barisan 20 cm dan antar legowo 40 cm.
Berikut ini adalah beberapa keunggulan system tanam jajar legowo 2:1
1. Jumlah anakan/rumpun tanaman akan bertambah banyak sekitar 30%.
2. Seluruh barisan padi berada di pinggir, maka penyinaran matahari optimal
3. Sirkulasi udara akan lebih lancar dan optimal, sehingga mengrangi resiko penyakit akibat jamur dan bakteri yang menghedaki kelembaban tinggi seperti kresek.
4. Mudah dalam pemeliharaan khususnya pemupukan, penyiangan, dan perawatan
5. Megendalikan hama tikus
6. Meningkatkan produktivitas hasil panen hingga 7 – 15%.
Syarat Agar Lahan Bisa Ditanami dengan system jajar legowo 2:1
1. Lahan tidak terasering, jika terpaksa bertera kemiringan lahan kurang dari 25 % dengan petakan minimal 3 meter
2. Dosis pemupukan sebaiknya ditambah 10 – 20 % dari tanam padi system konvensional
3. Usahakan barisan searah sinar matahari agar sinar matahari dapat lebih mudah sampai kepermukaan tanah
4. Gunakan bibit yang varietasnya mudah untuk memperbanyak anakan.
Masalah umum sulitnya jajar legowo dikembangkan hingga saat ini disebabkan pola pikir petani yang sebagai berikut:
1. Dengan tanam padi sistem jajar legowo 2 : 1 akan mengurangi jumlah rumpun, padahal sebaliknya rumpun justru makin banyak.
2. Jarak terlalu rapat antar tanaman dapat menurunkan anakan, padahal jarak legowo cukup luas untuk anakan berkembang.
3. Tenaga tanam yang belum bepengalaman, hal ini terjadi karena belum terbiasanya para tenaga tanam. Solusinya dapat dilakukan dengan cara menggunakan caplak khusus legowo, sehingga mempermudah tenaga tanam.

Sumber : kabartani.com